Akses terhadap pendidikan dasar sembilan tahun yang bermutu merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang wajib dipenuhi oleh jajaran aparatur daerah melalui berbagai instrumen kebijakan. Di wilayah ujung utara Sumatra, alokasi anggaran dana otonomi khusus yang besar sebenarnya telah dikonversikan ke dalam program bantuan biaya pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Namun, ketersediaan dana bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan retensi siswa hingga lulus tingkat menengah. Uniknya, di sektor pedesaan, ketahanan masyarakat justru sering kali ditopang oleh kemandirian agraris, di mana peran tata kelola gampong dalam mewujudkan ketahanan pangan menjadi Angka Putus Sekolah dari belenggu kemiskinan sistemik.
Beban Biaya Tersembunyi di Luar Komponen Uang Sekolah
Faktor mendasar yang menyebabkan anak-anak dari keluarga prasejahtera terpaksa meninggalkan bangku sekolah adalah adanya komponen biaya non-akademis yang tidak diakomodasi oleh dana bantuan pemerintah. Beasiswa konvensional umumnya hanya menutup biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) atau buku pelajaran pokok saja.
Sementara itu, orang tua siswa masih harus menanggung beban pengeluaran harian yang cukup besar untuk ongkos transportasi harian ke sekolah yang jaraknya jauh, pembelian seragam, sepatu, hingga biaya kegiatan ekstrakurikuler. Bagi keluarga nelayan atau buruh tani dengan penghasilan harian yang tidak menentu, akumulasi biaya tersembunyi ini tetap menjadi beban finansial yang tidak sanggup mereka pikul.
Tekanan Ekonomi Keluarga dan Tuntutan Membantu Mencari Nafkah
Penyebab sekunder yang memperparah kondisi ini adalah kuatnya tuntutan sosial bagi anak usia remaja untuk terjun langsung membantu perekonomian rumah tangga. Banyak orang tua di pedalaman yang menilai bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak memberikan jaminan kepastian kerja instan di masa depan.
Akibatnya, anak-anak sering kali didorong untuk berhenti belajar dan memilih bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kelapa sawit atau sektor perikanan tangkap demi menambah pendapatan harian keluarga. Pola pikir pragmatis akibat kemiskinan akut inilah yang menjadi alasan mengapa grafik angka putus sekolah di bumi Serambi Mekkah masih tinggi meski program pemberian bantuan beasiswa pemerintah terus digulirkan setiap tahun anggaran.