Di jantung Kota Banda Aceh, berdiri kokoh Masjid Raya Baiturrahman, sebuah bangunan suci yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah umat Islam tetapi juga sebagai simbol utama ketahanan sejarah dan keindahan arsitektur peradaban Islam di Nusantara. Sejarah masjid ini mencerminkan perjalanan panjang Aceh, mulai dari era Kesultanan, perjuangan melawan penjajah Belanda, hingga bencana alam Tsunami 2004. Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi bisu dan pelindung spiritual masyarakat Aceh melalui berbagai cobaan. Keindahan arsitektur Moor-nya yang dikombinasikan dengan sentuhan Melayu menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi.
1. Sejarah Panjang Pembangunan dan Perjuangan
Masjid ini awalnya didirikan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Catatan sejarah yang paling umum menunjukkan masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (abad ke-17). Namun, bangunannya yang sekarang adalah hasil dari pembangunan ulang pasca-penghancuran oleh Belanda.
- Peristiwa Pembakaran: Pada tahun 1873, saat Perang Aceh meletus, Belanda membakar masjid lama. Pembakaran ini memicu perlawanan rakyat Aceh yang semakin sengit.
- Inisiasi Belanda: Ironisnya, untuk meredakan kemarahan rakyat Aceh, Belanda berjanji membangun kembali masjid dengan gaya arsitektur yang lebih megah. Pembangunan kembali dimulai pada tahun 1878, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Jenderal Kohler.
2. Keunikan Arsitektur Moor dan Adaptasi
Masjid Raya Baiturrahman menampilkan gaya arsitektur yang sangat unik dan berbeda dari kebanyakan masjid tradisional di Indonesia.
- Desain Moor: Desain awalnya dipengaruhi oleh gaya Moor (gaya Islam dari Maroko dan Andalusia, Spanyol) yang ditandai dengan kubah besar dan menara tunggal. Seiring waktu, jumlah kubah terus ditambah, mencapai lima kubah pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
- Marmer Italia: Lantai dan beberapa bagian dinding menggunakan marmer impor dari Italia, menunjukkan kemegahan dan kualitas konstruksi yang tinggi pada zamannya.
3. Simbol Ketahanan Pasca Tsunami 2004
Peran masjid ini sebagai simbol ketahanan mencapai puncaknya saat Tsunami Samudra Hindia melanda pada 26 Desember 2004.
- Saksi Perlindungan: Saat air bah menghantam Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu dari sedikit bangunan di pusat kota yang tetap berdiri tegak. Kubah-kubahnya tidak runtuh. Bangunan ini tidak hanya memberikan perlindungan fisik tetapi juga menjadi tempat pengungsian dan pusat bantuan pasca-bencana.
- Data Korban Selamat: Kesaksian dari berbagai pihak mengindikasikan bahwa ratusan orang selamat dari amukan tsunami karena berlindung di lantai atas masjid. Menurut laporan resmi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, masjid ini dijadikan pusat identifikasi korban dan distribusi bantuan pada minggu pertama setelah bencana.