Aceh memiliki sejarah panjang dan kekayaan literasi yang sangat kuat, namun tantangan di era modern saat ini adalah bagaimana menjaga keberlanjutan cerita-cerita tersebut melalui tulisan yang sistematis. Menanggapi hal tersebut, Kelas Menulis yang diselenggarakan oleh Fakta Aceh hadir untuk membangkitkan kembali semangat literasi masyarakat Serambi Mekkah. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan merangkai kata, melainkan sebuah gerakan untuk menyadarkan publik mengenai betapa krusialnya mencatat setiap peristiwa, tradisi, dan perubahan sosial yang terjadi di lingkungan mereka sendiri melalui sebuah media yang sah.
Poin utama yang ditekankan dalam pertemuan ini adalah dokumentasi lokal. Selama ini, banyak sejarah lisan atau kearifan lokal di Aceh yang perlahan menghilang karena tidak dibukukan atau dituliskan dengan baik. Padahal, dokumentasi tertulis adalah warisan yang paling abadi bagi generasi berikutnya. Melalui tulisan, masyarakat Aceh dapat merekam dinamika pembangunan kota, keunikan kuliner khas daerah, hingga perjuangan komunitas dalam mempertahankan adat istiadat. Tanpa dokumentasi yang kuat, identitas sebuah daerah berisiko tergerus oleh arus globalisasi yang sering kali menyeragamkan segala hal.
Fakta Aceh melalui kelas ini mengajak para pemuda, mahasiswa, dan praktisi untuk mulai peduli terhadap isu-isu di sekitar mereka. Menulis bukan hanya tugas wartawan atau penulis profesional, tetapi tanggung jawab setiap warga yang peduli pada daerahnya. Dalam sosialisasi ini, dipaparkan bahwa tulisan yang berbasis data lokal memiliki nilai jual yang tinggi di mata pembaca nasional maupun internasional. Orang ingin tahu bagaimana perspektif asli orang Aceh dalam memandang sebuah fenomena, bukan hanya sekadar membaca berita dari sudut pandang orang luar yang mungkin tidak memahami konteks lokal secara utuh.
Teknik menulis yang diajarkan dalam kelas ini difokuskan pada kesederhanaan namun tetap memiliki bobot informasi yang padat. Peserta dilatih untuk mencari sudut pandang yang unik dari setiap kejadian sehari-hari agar tulisan tidak terasa monoton. Misalnya, daripada hanya menulis tentang ramainya pasar tradisional, peserta diajarkan untuk menulis tentang profil salah satu pedagang tua yang telah berjualan selama puluhan tahun. Pendekatan bercerita (storytelling) seperti ini membuat dokumentasi lokal menjadi lebih hidup dan menarik untuk dibaca oleh berbagai kalangan, sekaligus menjaga agar informasi tersebut tetap relevan sepanjang waktu.