Gunung Leuser, bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang membentang luas di Aceh dan Sumatera Utara, adalah surga bagi para pecinta ekspedisi alam dan rumah bagi beragam satwa langka yang terancam punah. Melakukan ekspedisi alam ke jantung hutan Leuser bukan hanya tentang menjelajahi keindahan alam yang masih perawan, tetapi juga tentang kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan penghuni aslinya, termasuk orangutan Sumatera, harimau, gajah, dan badak. Pengalaman ini menawarkan petualangan tak terlupakan yang sarat edukasi konservasi. Menurut data Balai Besar TNGL per Januari 2025, populasi orangutan Sumatera di wilayah tersebut menunjukkan peningkatan kecil berkat upaya konservasi intensif.
TNGL diakui sebagai salah satu hutan hujan tropis paling penting di dunia dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Ekosistemnya yang kompleks mencakup pegunungan, lembah, dan sungai yang membentuk habitat ideal bagi “Trio Leuser”: orangutan, harimau, dan gajah Sumatera. Sebuah ekspedisi alam ke Leuser seringkali dimulai dari Bukit Lawang di Sumatera Utara, atau dari wilayah Ketambe di Aceh Tenggara, yang dikenal sebagai salah satu titik terbaik untuk pengamatan orangutan liar. Para pengunjung akan ditemani oleh pemandu lokal yang berpengalaman, yang tidak hanya menguasai medan, tetapi juga memahami perilaku satwa dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Perjalanan dalam ekspedisi alam ini biasanya melibatkan trekking melalui hutan lebat, menyeberangi sungai, dan mendaki medan yang bervariasi. Walaupun menantang, setiap langkah sebanding dengan pemandangan yang disajikan: pohon-pohon raksasa, suara kicauan burung eksotis, dan potensi penampakan satwa liar. Pertemuan dengan orangutan yang bergelantungan bebas di pepohonan adalah momen yang sangat berkesan dan menjadi puncak dari sebagian besar trek di Leuser. Namun, penting untuk diingat bahwa satwa liar adalah mahluk bebas, sehingga penampakan tidak selalu terjamin. Pada 14 Maret 2025, sebuah tim peneliti dari Universitas Syiah Kuala mencatat jejak kaki harimau Sumatera yang baru di wilayah hulu Sungai Alas, mengindikasikan populasi yang sehat.
Upaya konservasi di Gunung Leuser sangat krusial. Ancaman seperti perambahan hutan, perburuan liar, dan fragmentasi habitat terus mengintai. Oleh karena itu, setiap ekspedisi alam yang dilakukan harus bertanggung jawab dan mematuhi peraturan yang ketat, seperti menjaga jarak aman dengan satwa, tidak memberi makan, dan tidak meninggalkan jejak. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi pada perlindungan harta karun alam ini untuk generasi mendatang.