Benteng Indra Patra: Sisa Peninggalan Kerajaan Hindu Pertama di Aceh yang Unik

Keunikan sejarah Aceh sering kali identik dengan kesultanan Islam yang kuat. Namun, jauh sebelum Kerajaan Islam Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam mencapai masa keemasan, Serambi Mekkah telah menjadi tempat berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Salah satu peninggalan monumental dari periode pra-Islam tersebut adalah Benteng Indra Patra. Benteng bersejarah ini memiliki keunikan yang sangat spesifik karena menjadi salah satu saksi bisu keberadaan kerajaan Hindu pertama di Aceh yang masih dapat disaksikan hingga kini. Benteng Indra Patra menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan sejarah Aceh, menunjukkan bahwa wilayah ini merupakan melting pot budaya yang telah menerima berbagai pengaruh sejak dahulu kala. Sebagai benteng pertahanan yang strategis, fungsi awalnya adalah untuk melindungi wilayah dari serangan bajak laut dan bangsa asing yang datang dari Selat Malaka.

Konstruksi benteng ini diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra Patra dari Kerajaan Lamuri sekitar abad ke-7 Masehi. Awalnya, benteng ini merupakan bagian dari sistem pertahanan yang lebih besar yang dikenal sebagai “Aceh Lhee Sagoe” (Tiga Segi Aceh). Walaupun banyak bangunan di sekitarnya telah hilang dimakan usia dan bencana alam, tiga benteng utamanya, termasuk Benteng Indra Patra, masih bertahan. Bentuk arsitekturnya yang kokoh dengan dinding batu setebal sekitar 2 meter dan tinggi yang menjulang menunjukkan fungsi utamanya sebagai kubu pertahanan yang tangguh. Secara spesifik, benteng ini memiliki luas kompleks sekitar 1 hektare, dengan dua benteng kecil dan satu benteng utama yang dulunya dilengkapi parit pertahanan di sekelilingnya.

Menariknya, meskipun merupakan peninggalan kerajaan Hindu, benteng ini kemudian digunakan dan dipertahankan oleh Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda (sekitar tahun 1607-1636 M), Benteng Indra Patra menjadi salah satu pos terdepan dalam menghadapi serangan armada Portugis dan Belanda. Hal ini menunjukkan akomodasi budaya yang tinggi di Aceh, di mana warisan struktural dari masa lalu tetap dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan di masa kesultanan Islam. Keragaman fungsi dan sejarah inilah yang menjadikan benteng ini sangat unik.

Saat ini, kondisi benteng dikelola di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh. Berdasarkan laporan pemugaran terakhir yang selesai pada tanggal 10 April 2024, telah dilakukan perbaikan pada beberapa bagian dinding yang lapuk serta penataan kawasan di sekitarnya untuk memudahkan akses edukasi. Upaya pelestarian ini penting untuk memastikan bahwa jejak sejarah Hindu di Aceh tidak hilang. Bentuk Benteng Indra Patra yang bersejarah, ditambah dengan pemandangan langsung ke laut lepas, memberikan latar belakang visual yang kuat bagi para pengunjung untuk merefleksikan perpaduan budaya dan ketangguhan pertahanan Aceh dari masa ke masa.